Laman

by isoaezone. Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 12 Juni 2012

Tangis Sang Proklamator untuk Sepak Bola Indonesia

PLEIN van Rome, lapangan luas yang terletak di alun-alun Kota Padang, menjadi saksi bisu kecintaan Bung Hatta terhadap sepak bola. Semasa hidupnya, Wakil Presiden RI pertama itu merupakan salah satu tokoh nasional yang menggemari olahraga tersebut. Melalui kepengurusan sepak bola saat bersekolah di MULO jugalah Hatta pertama kali belajar untuk berorganisasi hingga sebutan "Bapak Koperasi" disematkan kepada dirinya.
Di masa remaja, Hatta sempat bergabung dalam klub sepak bola bernama Young Fellow. Meski berisi sejumlah anak Belanda, Hatta mampu tampil menonjol dan mampu memberikan prestasi. Juara Sumatera Selatan selama tiga tahun berturut-turut serta julukan "Onpas Seerbar" (Sukar Diterobos) dari orang Belanda adalah bukti kehebatan Hatta dalam sepak bola.
"Saya bermula bermain sepak bola di tanah lapang, dengan memakai bola biasa yang agak kecil ukurannya, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, saya sudah di tanah lapang. Kalau tidak bermain sebelas lawan sebelas, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke dalam gawang dan belajar menembak ke gawang," tulis Hatta dalam buku Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.
Salah seorang teman Hatta, Marthias Doesky Pandoe, wartawan kelahiran Padang, dalam buku Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman, disebut menyimpan banyak kenangan semasa Hatta masih remaja. Menurut Marthias, sejumlah teman Hatta yang pernah ditemuinya sering bercerita bahwa Sang Proklamator itu adalah gelandang tengah yang cukup tangguh.
Bahkan, kegemaran Hatta pada sepak bola berlanjut ketika dirinya menjadi salah satu tokoh politik penting dalam sejarah Indonesia. Dia tidak pernah absen menonton sejumlah pertandingan besar. Ketika diasingkan oleh kolonial Belanda ke Boven Digul pada 1935, ia bersama Sutan Sjahrir masih menyempatkan bermain sepak bola.
Hatta juga sempat membuat Bung Karno terpojok dan keteter saat beradu argumentasi mengenai kekalahan PSSI saat melawan kesebelasan Aryan Ghimkanna dari India di Stadion Ikada (sekarang Monas). Guntur Soekarno Putera yang ikut menonton pertandingan itu, dalam buku Pribadi Manusia Hatta, seri 10, lantas menyematkan judul "Nonton Bola, Apa Tafakur?" untuk menggambarkan keseriusan Hatta dalam urusan sepak bola.
Hingga hari tuanya, sepak bola pun masih menjadi bagian hidup Hatta. Pada awal 1970-an, saat Pandoe berkunjung ke rumah Hatta, tuan rumah berkata, "Di mana letak Plein van Rome sekarang?" Pandoe pun menjawab bahwa lapangan bola tersebut masih ada, tetapi kini telah menjadi alun-alun Kota Padang. Namanya sudah berganti menjadi Lapangan Imam Bonjol, yang berlokasi tepat di Kantor Balaikota Padang.

Semangat Nusantara

Dari sepenggal cerita tersebut, pasti timbul pertanyaan bagaimana jika Hatta melihat kondisi sepak bola nasional saat ini. Sebagai pencinta sepak bola sejati, Hatta pasti sedih dan mungkin saja menitikkan air matanya. Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, jika kita tarik ke belakang, sepak bola di masa Hatta, menjadi semangat tersendiri bagi anak bangsa. Kala itu, sepak bola bukan sebagai ajang pertarungan gengsi kepentingan pribadi seperti sekarang ini.
Pada masa penjajahan Belanda, pemuda Nusantara mengerti betul bahwa kehormatan sebagai bangsa bukan cuma urusan perang senjata, melainkan juga sepak bola. Atas semangat itulah, Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (sekarang PSSI) dibentuk pada 19 April 1930 sebagai wadah kesatuan untuk menegakkan martabat bangsa. Meski baru dibentuk, para pengurus di bawah kepemimpinan Ir Soeratin Sosrosoegondo itu telah memiliki konsep jelas bahwa sepak bola tidak hanya menjadi hobi, tetapi juga sebagai prestasi.
Koran Bintang Mataram edisi 22-44 April 1930, yang dikutip dari buku Kenang-kenangan 50 Tahun PSSI, melaporkan, salah satu misi berdirinya PSSI adalah sebagai jendela kebangsaan dan salah satu pintu gerbang menuju kemerdekaan. Dengan tujuan itu, jelas organisasi tersebut murni dibentuk dengan suatu kebanggaan akan semangat nasionalisme yang tinggi.
Alhasil, kompetisi pun dibuat bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan demi harga diri. Berkat kompetisi itulah, Nusantara mampu berbicara kepada dunia. Dengan memakai bendera Dutch East Indies (Hindia Belanda), pemuda Nusantara menunjukkan bahwa Asia telah mengenal olahraga yang begitu digandrungi di Eropa melalui keikutsertaannya di Piala Dunia 1938. Nusantara kemudian menjadi pionir bagi Asia yang ingin unjuk gigi di hadapan penghuni bumi.
Pascakemerdekaan, Jepang dan Korea Selatan pernah merasakan dipermak 4-0 oleh pemuda Nusantara. Di Merdeka Games 1949, Taiwan pun harus bertekuk lutut kepada Soetjipto Soentoro dan kawan-kawan dengan skor 11-1. Medali emas SEA Games 1987 dan 1991 juga direbut Indonesia. Sejumlah prestasi itu, Nusantara jelas dapat membusungkan dada di antara negara Asia, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, Jepang, hingga daratan Korea.
Bahkan, Jepang yang luluh lantah akibat Perang Dunia II tak malu untuk meniru Indonesia yang berstatus sebagai eks jajahannya. Mereka rela menyingkirkan gengsi sebagai penguasa Asia saat menjajah Nusantara selama 3,5 tahun lamanya. Dengan meniru sistem kompetisi Galatama pada akhir 1970-an hingga awal 1990-an, Negeri Sakura mampu meraih sukses melalui J-League miliknya dan dapat bertransformasi menjadi salah satu kekuatan Asia hingga kancah Piala Dunia.

Mimpi Indonesia

Lantas bagaimana dengan Indonesia saat ini?  Hatta memang tidak sempat menyaksikan gemilangnya prestasi terakhir anak bangsa saat meraih medali emas SEA Games 1991 di Manila. Namun, Hatta mengerti bagaimana menjadi seseorang yang mencintai sepak bola yang memiliki kejujuran, kesederhanaan, serta tanggung jawab yang besar bagi negara. Hal inilah yang harusnya dijadikan suri teladan oleh sejumlah pengurus sepak bola di kompleks Senayan.
Semenjak SEA Games 1991, kondisi sepak bola nasional seperti tenggelam dalam sejarah kelam. Teranyar, lihat saja bagaimana bangsa ini diperbincangkan seluruh isi bumi saat menelan kekalahan 0-10 dari Bahrain di Pra-Piala Dunia yang menyakitkan hati. Belum lagi, istilah "spesialis final" mulai disematkan kepada Indonesia. Negeri ini kembali mengalami kegagalan di final turnamen Hassanal Bolkiah Trophy pekan lalu. Kini, satu per satu negara Asia sudah bisa menari karena prestasi, sementara kegemilangan Indonesia tinggal menjadi kenangan.
Lalu, kenapa di tengah majunya negara Asia justru Indonesia mengalami kemunduran prestasi luar biasa? Memang, banyak faktor mengenai anomali prestasi ini. Tetapi, rasanya tidak logis jika pemain dan pelatih yang disalahkan atas sejumlah kegagalan. Pengurus sepak bola yang berseterulah juga harus dituntut tanggung jawabnya, berkat ulahnya membuat dualisme kompetisi, pertarungan politik, dan konflik tiada henti.
Dengan adanya dualisme kompetisi, pilihan untuk mengisi pemain terbaik di timnas pasti akan menjadi masalah tersendiri. Sejumlah pengurus itu bahkan terkesan lebih mirip politisi dibanding pamong olahraga sejati.
Masa lalu sepak bola kita padahal memberi banyak teladan. Lihat saja di era 1960 hingga 1980-an,  kelanjutan prestasi dari timnas yunior ke senior terlihat secara gamblang. Talenta muda Nusantara mampu meraih prestasi di kejuaraan Piala Asia Yunior (juara 1962, runner-up 1967, 1970), dan tiga kali berturut-turut meraih gelar Kejuaraan Pelajar Asia (1984, 1985, 1986). Prestasi itu bisa berlanjut ke timnas senior di era 1980 hingga 1990-an.
Tentunya, prestasi itu bisa berlanjut karena adanya kebesaran hati sejumlah pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain yang juga membuat daya juang pemain meningkat. Pengurus rela hanya menerima honorarium selama pelatnas dan tidak menerima gaji tetap. Untuk soal dana, mereka hanya mengandalkan jualan karcis jika bertanding melawan tim-tim besar dan sedikit bantuan dari sejumlah penggila bola yang ingin menaikkan martabat bangsa di Asia.
Kebesaran hati dan keinginan untuk menaikkan martabat bangsa itulah yang hilang dewasa ini. Padahal, banyak sekali talenta muda yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Lihatlah bagaimana timnas U-17 bisa meraih gelar juara di invitasi sepak bola Hongkong pada awal 2002, atau tim muda di sejumlah gelaran Piala Dunia Danone yang mampu mengalahkan sejumlah tim Eropa. Jika sudah begini, prestasi para talenta muda justru dijadikan komoditas politik untuk saling klaim dan pamer kesuksesan.
Perseteruan PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang saling adu strategi dan kemampuan dalam berkonflik itu telah membuat Indonesia seperti kembali ke masa penjajahan Belanda dengan taktik devide et empera. Gigihnya pengurus dua organisasi itu dalam kisruh justru membelah persatuan anak bangsa. Terlalu banyak intrik demi mencari kekuasaan daripada meraih kesuksesan. Prestasi pun hanya menjadi mimpi di balik kotornya permainan politik demi kepentingan pribadi.

Contohlah Hatta

Harusnya setiap pengurus PSSI maupun KPSI dapat mencontoh Hatta yang mampu menyingkirkan emosi serta kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa. Lihat saja bagaimana Hatta rela melakukan negosiasi dengan Belanda, yang telah menjajah ratusan tahun, dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949. Kerelaan itu pun berbuah nyata, yaitu kemerdekaan Indonesia!
Belum lagi ketika Hatta dengan sikap kesatria mengundurkan diri dari posisi Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956 karena tidak sepaham dengan pandangan politik Bung Karno. Hatta sadar, bila bertahan dalam perbedaan dengan Bung Karno, justru bakal memperkeruh pemerintahan republik yang masih muda usia. Tujuannya pun jelas, yakni agar bangsa tidak terpecah belah.
Padahal, Hatta sebenarnya mempunyai sejumlah alasan kuat untuk menolak berunding dengan Belanda yang telah membuat rakyat Indonesia sengsara hampir 3,5 abad lamanya, ataupun menolak pandangan Bung Karno. Alasan itu pun jauh lebih kuat dibanding alasan statuta FIFA yang dipegang oleh PSSI dan KPSI.
Coba tanyakan ke masyarakat, apa yang diharapkan dari sepak bola Indonesia saat ini? Sebagian besar jawaban pastinya adalah mendapat prestasi, bukan mimpi, bukan pula konflik yang tiada henti. Masyarakat sejatinya saat ini tidak butuh sejumlah alasan dari pengurus sepak bola yang hanya sibuk dengan kepentingan pribadinya.
Sudah cukup bangsa ini menanggung malu, apalagi dengan hasil mengecewakan di Pra-Piala Dunia 2014 dan sejumlah final di kejuaran tingkat Asia itu. Harusnya kedua pengurus itu mengilhami ucapan Hatta bahwa jatuh bangunnya prestasi negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri.
Sekarang ratusan juta penduduk Indonesia menunggu apakah PSSI dan KPSI mau meniru kebesaran hati, kepedulian, dan jiwa kepahlawanan seorang pencinta sepak bola seperti Bung Hatta yang hari ini tepat 32 tahun meninggalkan kita, atau hanya tetap menjadi penyumbang duka sepak bola Indonesia....
"Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta...." - Mohammad Hatta. 






sumber:Kompas.com

Arti Warna Pada Bunga Mawar

Mengirimkan bunga mawar pada saat valentine day, ataupun acara-acara keluarga lainnya selalu menjadi sebuah ide yang bagus dan tentunya bakal membuat sang penerima yang mungkin notabene adalah kekasih hati kita merasa tersanjung dan berbunga-bunga. Tapi…. hati-hati jangan sampai anda mengirimkan bunga mawar dengan warna yang salah, yang bisa-bisa membuat sang penerimanya salah mengerti alias miss understanding. Yang tadinya mau menembak si dia, eh… anda malah disangka ingin sekedar temenan saja, hanya karena anda mengirimkan bunga mawar dengan warna yang salah.

Biar tidak salah pillih warna ketika akan memberikan setangkai bunga mawar, ada baiknya simak dulu berbagai warna bunga mawar berikut makna dibalik warna-warna tersebut.

Yups… tak diragukan mawar merah adalah bunga mawar yang paling umum untuk menyatakan perasaan cinta anda. Merah melambangkan cinta, keindahan, rasa hormat, romantisme dan bahkan sebagai pujian. Pada dasarnya warna merah itu artinya berani. Tapi kalau diartikan sebagai warna bunga, warna merah tuh melambangkan rasa cinta dan sayang. Dan rasa cinta itu cenderung terkait dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Warna bunga merah juga bisa diartikan sebagai cinta dengan rasa ‘respect’ yang tinggi.

Mawar Merah

Saat Valentine day orang berbondong-bondong mengirimkan mawah merah, kenapa anda tidak tampil beda. Berikanlah Mawar Putih pada kekasih hati anda. Putih sebagai lambang cinta sejati, kesucian, kemurnian hati dan keagungan, akan lebih meyakinkan pada sang kekasih bahwa anda begitu mencintai dan menyayanginya. Mawar putih juga cocok diberikan untuk sahabat, karena putih mencerminkan persahabatn sejati.

Mawar Putih

Kalau mawar yang ini sangat cocok diberikan kepada teman atau keluarga sebagai penghargaan kepada mereka. Pink melambangkan kebahagiaan, penghormatan, kelembutan dan tentunya pujian. Warna ini paling tepat untuk mengungkapkan perasaan suka pada seseorang. So kalau mau menyampaikan perasaan suka sama seseorang, warna pink adalah warna yang paling cocok. Warna pink juga bisa diartikan terima kasih dan rasa syukur yang mendalam. Selain itu Kalau warnanya lebih muda dapat diartikan sebagai ungkapan rasa kagum, sedangkan warna yang merah mudanya lebih tua dapat diartikan sebagai ungkapan terimakasih si pemberi terhadap si penerima.

Mawar Pink (Merah Muda)

Sangat cocok diberikan pada teman atau keluarga setelah terjadinya konflik atau pertengkaran. Mawar kuning melambangkan persahabatan, kekeluargaan, keceriaan dan kegembiraan. Tapi tidak sedikit orang yang mempersepsikan bunga kuning sebagai ungkapan benci dan cemburu. So be careful… Warna kuning juga diartikan fleksibilitas dan kebebasan.

Mawar Kuning

Kalau yang ini, sangat cocok diberikan bila anda sedang jatuh cinta pada teman sendiri. Karena selalu bersama-sama, belajar bersama, jalan-jalan bersama, liburan bersama, makan bakso bersama, sampai curhat-curhatan tak disangka akhirnya timbul rasa sayang dan cinta di hati untuk teman anda itu. Tunjukkan perasaan cinta pada teman anda tersebut dengan rangkaian mawar kuning berstrip merah. Yang terpenting, asal jangan anda jatuh cinta pada teman yang sesama jenis!

Mawar Kuning dengan strips Merah

Rasa benci itu manusiawi… Cara mengungkapkannya pun berbeda-beda, ada yang diungkapkan langsung, ada juga yang hanya dipendem sendiri. Nah, daripada capek hati, rasa benci itu juga bisa diungkapkan dengan mengirim bunga warna hitam.

Mawar hitam

Hijau adalah warna harmoni, dari kesejahteraan, kesuburan. ini juga indikasi warna perdamaian dan ketenangan. dengan nuansa hijau dapat melambangkan "semoga kehidupan baru yang sejahtera atau keinginan untuk pemulihan kesehatan yang baik.

Mawar hijau

Memang tidak ada mawar hitam, mawar hijau, maupun mawar biru. Karena warna dasar mawar adalah putih dan merah. Melalui teknik rekayasa genetik (Suntory and Florigene) dua negara, ternyata warna-warna aneh itu bisa hadir.

Jepang diwakili oleh Suntory Limited dan Australia dari Florigene Pty. Ltd bekerja sama menciptakan Mawar Biru. "Mawar biru secara tradisional diciptakan dengan mematikan mawar putih dan menahan pigmen delphinidin, sehingga hanya ada pigmen utama penghasil warna biru saja,"

Mawar biru mempresentasikan perasaan yang tidak mudah dikatakan. Biru dalam fisik mawar juga diartikan sebagai imaginasi, misteri, tak dapat disentuh atau ketidakmungkinan. Lainnya, mawar biru sangat pas untuk Anda yang benar-benar mencintai begitu dalam pasangan Anda. Karena biru menggambarkan kebekuan, karena biru adalah sesuatu yang benar-benar dalam. "Mawar Biru melambangkan kesungguhan atas perasaan karena direkayasa genetik dengan semua warna mawar yang menjadikan mawar biru memiliki kelebihan dari semua mawar (merah, kuning, putih, hitam)

Mawar biru

Melambangkan keindahan unik dari warna lavender ini melambangkan simbol kesempurnaan dari pesona, kekaguman. Mawar warna ini juga digunakan untuk mengekspresikan perasaan akan cinta pada pandangan pertama.

Mawar ungu

Kalau bunga mawar yang satu ini banyak diartikan sebagai pengungkapan rasa pertemanan kita kepada seseorang, karena warna peach merupakan warna yang melambangkan kehangatan dari suatu ikatan.

Mawar peach

Mawar orange melambangkan semangat seseorang, dimana biasa dapat diartikan sebagai pemberi bunga mawar orange ingin mengenal penerima secara lebih jauh.

Mawar orange

Dengan melihat arti dari warna bunga mawar tersebut kita bisa lebih tau saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan lewat sebuah mawar. Tidak usah banyak bicara biarlah sekuntum mawar yang mengungkapkan isi hati kita

Fakta Nyata Cewek Yang Sudah Tak Perawan

mo share aja, ciri-ciri cewek yang udah gak perawan... kalau kata orang sich di liat dari posisi payudara, posisi pantat yang udah turun dan yang lain nya. tapi yang jelas bener-bener bakal keliatan kalau si cewek udah ngak  perawan adalah:

cirinya kalau si doi lagi HAMIL, itu udah pasti doi udah gak perawan https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHpxE1EK4wgjDufo6hvdwepT9O4rSV_YzgzIX8DWIrofXZIM0Iw9rpeLf8fYD8Lro97F68b90r3rIjZ4EWLG930nmrO8nXXQN_ZyXR3OWk-keq5SIu91hGO0diDzrUu7JgsaT30rxeYZA/s1600/ibu-hamil.jpg 

http://www.lintasberita.com/mediabig/0f649045433030cd3e41ff128ff1537f.jpg  

 http://cyberlampung.files.wordpress.com/2010/06/ibu-hamil.jpg

Alasan Wanita Tak Menyukai Pria Berambut Panjang

Gaya rambut bisa mencerminkan kepribadian seseorang. Bahkan seringkali, model rambut bisa menjadi kesan pertama saat pertama kali bertemu seseorang. Intinya, potongan rambut bisa jadi daya tarik seseorang.
Namun, kebanyakan pria ternyata tidak menyukai potongan rambut wanita dengan model bob, atau berambut pendek. Sedangkan sebagian besar wanita tidak menyukai pria gondrong alias berambut panjang.

Tentu saja, pria dan wanita punya alasan tersendiri saat tidak menyukai model rambut tertentu. Namun, apa alasan wanita tidak memberikan respon positif pada pria berambut panjang?
Seperti dikutip dari laman YourTango, sebuah jajak pendapat di sebuah situs online mengungkap, alasannya adalah pria berambut panjang, terutama yang tidak terawat akan terlihat berantakan, jorok dan kotor. Meski bagi beberapa wanita, pria berambut panjang terawat terlihat seksi, tapi banyak wanita yang justru merasa tersaingi. Karena, bisa jadi rambut pria tersebut lebih indah dari rambutnya.

Selain itu, gaya rambut pria paling menjijikkan buat wanita adalah yang panjang dan gimbal. Menurut wanita, pria dengan rambut gimbal umumnya tidak bisa menjaga kebersihan tubuhnya yang lain.

Itulah alasan lebih banyak wanita yang tidak memilih pria berambut panjang sebagai pasangan. Jadi, bagi pria yang sedang mencari pasangan, mungkin bisa memotong rambut panjangnya untuk memikat banyak wanita.

10 Seragam Bola Paling Legendaris

10. Juventus
Kostum ini dipakai Juventus sebagai peringatan 100 tahun berdirinya La Vecchia Signora. Warna merah jambu (pink) dipakai karena warna itulah yang dipakai saat Juve pertama kali berdiri. Untungnya, saat memasukki abad ke-20, kostum hitam-putih mulai dipakai. Jika tidak, mungkin julukan Juventus kini menjadi Colore Rosa (pink) yang jauh lebih feminim.

9. Kroasia, 1996
Pada penampilan perdananya di turnamen besar, Kroasia langsung menggebrak dunia karena berhasil masuk hingga perempat-final Euro 1996 di Inggris. Bermaterikan beberapa pemain bekas tim juara Piala Dunia Yunior 1987, Kroasia hanya kalah dari Jerman, yang akhirnya menjadi juara, di Old Trafford. Kostum kotak-kotak merah-putih juga menjadi inovasi tersendiri dalam kejuaraan itu.

8. Ajax Amsterdam
Bagian vertikal merah di tengah dan diapit oleh putih di masing-masing sisi menjadi ciri khas tersendiri bagi raksasa Belanda ini. Mungkin hanya perubahan sponsor yang memberikan sentuhan berbeda yang tak signifikan untuk jersey yang unik tetapi sederhana ini.

Kostum kandang Ajax seperti yang dikenakan Edgar Davids sudah melegenda
7. Denmark, 1986
Kostum ini mendatangkan cukup banyak kontroversi, serupa seperti kemunculan tim Skandinavia ini. FIFA sempat ikut campur dalam masalah ini, karena bukan hanya baju yang separuh merah dan putih, tetapi juga celana. Akhirnya, celana pun berubah menjadi putih, tetapi prestasi Denmark di Piala Dunia Meksiko 1986 tetap luar biasa dengan mencatat nilai sempurna di babak grup termasuk dari tim kuat Jerman Barat, tetapi akhirnya dibantai Spanyol di 16 besar.

6. Real Madrid, 1960-an
Kejayaan Real Madrid pada era 1960-an di atas lapangan hijau, bukan hanya memberikan inspirasi dari permainan mereka di lapangan, tetapi juga dari kostum tim yang digunakan. Warna putih polos dan tak dirusak oleh motif ataupun logo dicontoh oleh banyak tim, termasuk Leeds United dan kini LA Galaxy.

5. Jorge Campos, 1990-an
Kiper Meksiko ini menjadi satu-satunya peserta individu yang masuk dalam daftar ini. Kiper eksentrik ini dikenal dengan kepiawaiannya di bawah mistar, dan lebih karena kostumnya yang unik. Campos dikenal sering merancang sendiri kostum yang dipakai. Meskipun terkadang aneh dan tak masuk akal sehat, tetapi keberaniannya untuk tampil beda patut diacungi jempol.

Inilah salah satu kostum kebanggaan Jorge Campos yang cenderung bercorak warna-warni
4. Glasgow Celtic, 1967
Selain sukses meraih gelar Liga Champions, Glasgow Celtic juga berhasil mencuri perhatian karena jersey yang digunakan. Celtic pernah menggunakan kostum tanpa nomor punggung! Nomor hanya terdapat di celana, hingga akhirnya UEFA meminta Celtic untuk memasang nomor di punggung mereka.

Garis hijau putih polos yang membawa Celtic juara Liga Champions ini tanpa dilengkapi nomor punggung
3. Belanda (Johan Cruyff), 1974
Masalah sponsor, serupa seperti yang terjadi terhadap pebasket Michael Jordan pada Olimpiade Barcelona 1992, ternyata juga terjadi di dunia sepakbola. Johan Cruyff menolak memakai tiga garis yang menghiasi kostum tim Oranye pada Piala Dunia 1974 karena ia memiliki kontrak pribadi dengan Puma. Sebagai solusi, akhirnya hanya ada dua garis pada kostum Cruyff. Selain itu, Cruyff juga ngotot mengenakan nomor punggung 14, meskipun saat itu Belanda mengatur nomor punggung berdasarkan abjad pemain.

Tampak jelas hanya terdapat dua garis hitam membujur di atas pundak dan lengan Cruyff serta nomor 14 pada celananya
2. Prancis, 1984 dan 1998
Kostum Les Bleus pada Piala Eropa 1984 punya makna tersendiri bagi rakyat Prancis. Saat itu, Michel Platini berhasil membawa Prancis juara Euro 1984. Saat menggelar Piala Dunia 1998, Prancis memutuskan mengenakan kostum serupa seperti yang digunakan Platini pada 1984 dengan harapan Zinedine Zidane dkk. berhasil menjadi juara. Harapan itu terkabul, dan Zidane mengikuti jejak Platini mengangkat piala bergengsi bagi Prancis dengan kostum serupa.

Seragam yang dipakai Zidane saat juara Piala Dunia 1998 ini mirip dengan yang digunakan Michel Platini
1. Indonesia, 1956
Salah satu prestasi terbaik timnas Indonesia antara lain adalah lolos ke Olimpiade Melbourne 1956, dan bahkan sempat menahan imbang tanpa gol Uni Soviet, sebelum akhirnya Uni Soviet berhasil menggilas Indonesia pada partai ulangan dan kemudian berhasil meraih medali emas. Kostum hijau putih konon menjadi salah satu kostum yang digunakan tim Merah Putih saat itu dan kemudian sempat dipakai hingga 1981. Setelah hilang lebih dari dua dasawarsa, unsur hijau kembali hadir untuk kostum Piala Asia 2007. Kostum untuk Piala Asia 2007 itu mendapat sambutan hangat karena pemasaran yang cukup gencar dan dijual bebas, tetapi sayang kemiripan warna itu tidak mencapai keberhasilan yang sama seperti Prancis. Tim PSSI mampu tampil cukup baik pada Piala Asia 2007, tetapi kemudian harus mengakui kehebatan raksasa Asia lain dan setelah itu Garuda kembali meredup.

Bagaimana Jika di Seluruh Indonesia Diberlakukan GMT +8 ??


Irlandia, 1876. Sandford Fleming telah mengantongi tiket kereta untuk satu perjalanan yang dirancangnya. Agen perjalananannya telah mengatur jadwal keberangkatan mengasyikkan, pukul 5.35 malam waktu setempat.
Insinyur Kanada itu pun telah hadir di stasiun menjelang waktu keberangkatan. Tapi, sial. Kereta rupanya telah berangkat 12 jam sebelumnya, pada pukul 5.35 pagi. Fleming pun bingung. Standar waktu dunia saat itu memang amburadul. Kisah itu diungkap dalam buku Time Lord: Sir Sandford Fleming and the Creation of Standard Time.
Pengalaman buruk itu lalu membuat Fleming berpikir: bumi satu, mestinya pembagian waktu bisa diatur bersama. Dia lalu membagi waktu berdasarkan rotasi bumi 24 jam. Bumi bulat dihitung 360 derajat, dan lalu dibagi dalam 24 zona waktu.
Titik nol atau toloknya berasal dari Greenwich,  di bujur 0 derajat. Ini berarti, waktu di tiap garis bujur selebar 15 derajat dapat berbeda satu jam lebih lambat, atau lebih cepat dari Greenwich. 
Setelah perdebatan panjang, di hadapan para pemimpin dari penjuru dunia di Konferensi Meridian Internasional, inovasi pembagian waktu dunia karya Fleming pun diterima. Sejak 1884 dunia memakainya. Tak terkecuali Indonesia. 
Berdasarkan Greenwich Mean Time (GMT) pula, Indonesia kini menetapkan tiga zona waktu. Untuk bagian barat GMT +7, GMT+8 untuk wilayah tengah, dan GMT+9 bagi Indonesia bagian timur. Begitulah keputusan pemerintah, dan warga menyusun irama hidupnya setiap hari berdasarkan zona waktu itu.
Tapi, ada satu ide menyentak pekan lalu: bagaimana kalau tiga zona waktu itu dihapus, dan Indonesia hanya punya satu standar waktu saja, di GMT +8?  Usulan itu datang dari Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), pada 9 Maret 2012.
Apa pertimbangannya? "Kami ingin memeluk orang-orang agar sama. Bangun sama-sama, tidur juga sama-sama (waktunya)," ujar Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Lucky Eko Wuryanto kepada VIVAnews.

Hanya itu saja?
Alasan ekonomi
Tentu, kata Lucky, alasan utama untuk penyatuan waktu adalah ekonomi. Dia menunjuk usulan Sekretariat KP3EI berjudul GMT+8 For Stronger and Competitive Indonesia, yang menguji penerapan pembagian tiga zona waktu Indonesia dan dampaknya bagi sejumlah sektor.
Menurut studi lembaga itu, di bidang birokrasi misalnya, ternyata waktu efektif kegiatan pemerintahan dalam sehari hanya 180 menit atau 3 jam saja. Padahal, jam kerja tersedia dalam satu hari adalah 480 menit (8 jam).Ilustrasinya begini. Pegawai di wilayah timur Indonesia baru efektif bekerja pada pukul 10.00 WIT. Soalnya, mereka menunggu rekan di wilayah barat yang baru mulai buka pintu kantor pada saat sama (08.00 WIB). 
Atau di sektor pasar modal. Para pedagang surat berharga Indonesia bagian timur  ternyata hanya bisa efektif bekerja selama 1 jam. Sementara di wilayah tengah 3 jam. Padahal, Bursa Efek Indonesia yang bermarkas di Jakarta, beroperasi selama 5 jam mulai pukul 9.30 hingga 16.00 WIB.
Pengurangan waktu ini punya dampak penting. Asumsinya, jika nilai transaksi bertambah 15 persen, maka transaksi akan bertambah Rp60 triliun per tahun.  "Katakanlah transaksi di bursa sekarang Rp4 triliun per hari, atau per jam Rp400 miliar-500 miliar. Kalau dimajukan sejam, tambahan nilai transaksi di pagi hari saja bisa mencapai 500 miliar," ujar Lucky.
Tentu saja pasar modal gembira dengan usulan itu. Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Eddy Sugito, menyatakan ide penyatuan zona waktu bakal memudahkan jalannya transaksi. Warga juga tak lagi bingung.  "Dalam mengelola perjalanan, diskusi, acara, dan pekerjaan jadi lebih mudah. Perbedaan antara satu pulau dengan pulau lain menjadi tidak ada," kata Eddy kepada VIVAnews
Dalam soal bisnis juga punya dampak. KP3EI menemukan waktu efektif di Indonesia bagian timur hanya berjalan 4 jam. Singkatnya waktu itu karena pengusaha di Papua misalnya, baru bertransaksi sekitar pukul 11.00 WITA. Soalnya, mereka mencocokkan waktu kerja mitra mereka di wilayah barat.
Celakanya, karena soal beda waktu ini, banyak pemodal mencari dunia usaha yang buka terlebih dahulu seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina.  Dengan penggabungan zona waktu, KP3EI yakin minimal 600 jam waktu bisnis dapat diamankan oleh setiap unit usaha di tanah air.  
Di Indonesia bagian timur, perbedaan jam kerja sudah muncul lama. Wakil Kepala Wilayah BRI Papua, E Malau mengatakan, perbedaaan waktu 2 jam antara Indonesia bagian barat dan Timur, sangat terasa di urusan perbankan. ”Jam 5 sore kami sudah menghentikan kegiatan, tapi di wilayah barat masih jam 3, dan sedang giat-giatnya. Akibatnya kita terpaksa menunggu hingga jam 7-8 malam, karena harus membuat laporan,” ujarnya.
Hemat energi
Tak hanya bisnis perbankan, penggabungan zona waktu dipercaya akan meningkatkan kinerja bisnis jasa logistik di semua lini. Termasuk bisnis dunia penerbangan. Terutama pengaturan waktu terbang, produktivitas pesawat, dan efisiensi lembur kru pesawat, serta peningkatan volume konsumen penerbangan. "Garuda Indonesia menyatakan mendukung recana penggabungan ini," Lucky Eko menambahkan. 
Andre, Direktur Irian Jaya Sehat, distributor minuman bersoda berkisah, dia selama ini telah membuang sedikitnya 2 jam waktu efektif setiap harinya. Selama ini, dia menambahkan, perbedaan 2 jam, sangat mengganggu usahanya, terutama  soal transaksi keuangan, maupun laporan perusahaan.
Ihwal penyatuan zona waktu rupanya pernah juga dilontarkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).  Pemakaian energi listrik pada waktu beban puncak sekitar pukul 6-9 malam akan berkurang jika pelanggan lebih cepat istirahat.  Dengan mengubah WIB mengikuti WITA, rentang waktu beban puncak berjalan mulai pukul 7 sampai 10 malam, secara tak langsung berkurang. Masyarakat lebih cepat tidur. Beban  listrik di pagi hari juga akan berkurang karena pelanggan terbesar PLN dari golongan tarif R-1 lebih cepat bangun untuk berkegiatan di luar rumah. 
 
KP3EI tak melulu melihat segi keuntungan ekonomi. Penyatuan sistem zona waktu dianggap bisa membantu memperkuat semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ya, semacam satu bangsa, satu bahasa, dan kini satu waktu. “Perhatian” pemerintah pusat dianggap akan lebih merata ke semua wilayah. 

9 kali berubah
Meski usulan penyatuan zona waktu ini sempat membuat heboh, sebetulnya bagi Indonesia, ini bukanlah soal baru.
Sejak Jepang bekuasa di nusantara pada 1942, Jepang menyatukan zona waktu yang pernah disusun para pengusaha pribumi dan Belanda. Pada 1932 hingga 1942, Belanda membagi waktu bagi nusantara menjadi 6 zona. 
Di tangan Jepang, standar waktu Indonesia mengikuti Tokyo yaitu GMT+9. Alasannya sederhana. Jepang ingin membuat efektif operasi militer mereka. Tentu saja tujan lain adalah “menjepangkan” wilayah Koloni. Ini juga bukan baru. Pada 1908, dibawah Belanda, nusantara jajahan ini ikut pembagian waktu di negeri Belanda.

Aturan lebih lokal dibuat pada 6 Januari 1908. Lewat Gouvernements besluit, Belanda memutuskan zona waktu Jawa Tengah dan Batavia dengan perbedaan waktu 12 menit. Peraturan resmi berlaku 1 Mei 1908, tapi hanya berlaku untuk Jawa dan Madura. Di luar wilayah itu, Belanda sama sekali tak mengaturnya.
Baru pada 1918, Belanda akhirnya mengatur pembagian zona waktu untuk wilayah di luar Jawa seperti Sumatera Barat dan Timur serta Balikpapan. Misalnya, Padang  berbeda waktu 39 menit lebih lambat dari Jawa Tengah. Balikpapan berselisih 8 jam 20 menit lebih cepat dari Greenwich. 

Pada 1924, Belanda menetapkan selisih waktu antara Jawa Tengah dengan Greenwich adalah 7 jam 20 menit lebih cepat dari Greenwich. Di luar peraturan itu, pembagian waktu tiap daerah ditentukan oleh Hoofden van Gewestelijk Bestuur in Buitengewesen.
Memasuki 1930-an, penerbangan internasional dari Hindia Belanda ke Singapura dan Australia dibuka. Hindia Belanda, untuk pertama kalinya, membagi enam zona waktu sejak 11 November 1932.
Selain pertimbangan penerbangan, kebiasaan masyarakat pemakai jam matahari juga menjadi alasan keluarnya peraturan ini.  Pemerintah kolonial berharap masyarakat itu tak dirugikan dengan pembagian waktu ini. Ada selisih waktu, tiap zona 30 menit.


Setelah Jepang kalah di Perang Dunia Kedua, dan Belanda menduduki kembali sebagian daerah di Indonesia pada 1947, sistem waktu di Indonesia diringkas menjadi tiga zona. Tiap zona berselisih GMT +6, +7, dan +8, kecuali Papua yang berselisih GMT + 9. Namun, pembagian ini tak berlangsung lama. Pada 1950, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Dengan demikian, Indonesia kembali ke pembagian enam zona waktu dengan selisih 30 menit tiap zona. 

Seperti ditulis oleh historia.com, aturan ini tertuang dalam Keppres RI No. 152 Tahun 1950 yang mulai berlaku pada 1 Mei 1950. Hanya Irian yang masih menggunakan peraturan Belanda tahun 1947 karena masih diduduki Belanda. Keppres itu bertahan selama 13 tahun. 
Pada 1963, Indonesia mengubah kembali zona waktu menjadi tiga zona waktu: barat, tengah, dan timur. Irian Jaya yang telah kembali ke wilayah Indonesia masuk zona timur bersama daerah tingkat I Maluku karena terletak pada 135 derajat bujur timur. Selisih waktunya dengan GMT adalah + 9. Pembagian itu resmi dimulai sejak 1 Januari 1964.

Peraturan itu bertahan sampai 1987, ketika pemerintah membuat kebijakan memutuskan Bali masuk ke zona tengah karena pertimbangan pariwisata, sedangkan Kalimantan Barat dan Tengah ditarik ke zona barat dari zona tengah. Indonesia tetap dengan zona tiga waktu sampai hari ini. 
Ide penyatuan zona waktu ini tentu saja membangkitkan pro dan kontra. Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan Antariksa (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan pembagian waktu di Indonesia sekarang sudah tepat secara internasional. Posisi Indonesia ada di  95 hingga 141 derajat garis bujur timur.  Artinya zona waktunya terbagi tiga.
Sayangnya, diakui Thomas, penentuan zona waktu di dunia seringkali dibuat oleh dua alasan utama, politis dan ekonomis. China sengaja menyatukan penentuan zona waktu mereka ke dalam satu waktu karena alasan politis. Sementara Amerika Serikat yang tetap 4 zona waktu dengan alasan ekonomis.


Ide penggabungan zona waktu di tanah air, bagi Thomas dianggap kurang tepat. Setidaknya, harus dikaji lebih mendalam. "Jika disesuaikan jam standar, maka WIB akan dipaksakan bekerja lebih awal, sedangkan WIT lebih pagi," kata dia. Risikonya,  waktu produktif masyarakat tak sesuai dengan aktivitas matahari, terutama bagi yang terbiasa dengan jam matahari.

12 Mitos Seputar Kondom




Masih banyak orang yang enggan menggunakan kondom karena alasan yang sebenarnya hanyalah mitos. Padahal kondom bisa mencegah penularan penyakit menular seksual (PMS) jika salah satu ada yang tak sehat.


Kondom adalah alat pelindung saat berhubungan seks yang terbuat dari bahan karet seperti lateks atau poliuretan yang salah satu ujungnya terbuka.


Kondom digunakan untuk melindungi orang dari penyakit menular seksual (sexually transmitted disease/STD) seperti AIDS, syphilis dan lainnya. Selain itu juga membantu pasangan untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.


Berikut 12 mitos tentang penggunaan kondom:


1. Membeli kondom itu memalukan

Ada beberapa orang yang berpikir seperti itu, membeli kondom adalah hal yang memalukan. Jika Anda malu berkata 'beli kondomnya' kepada penjual, maka Anda dapat membeli kondom di toko swalayan sehingga tak harus malu untuk membelinya.


2. Penularan infeksi atau hamil bisa terjadi bahkan dengan menggunakan kondom

Jika Anda menggunakan kondom dengan benar, maka hal itu dapat meminimalkan risiko tertular penyakit menular seksual atau mencegah kehamilan.


3. Kondom harus dibeli kaum pria

Logikanya memang yang memakailah yang harus membeli. Tapi pada kenyataannya, lebih dari 35 persen konsumen yang membeli kondom adalah wanita.


4. Menggunakan kondom mempengaruhi kenikmatan

Kondom dibuat tipis, elastis dan tahan lama, yang secara praktis tidak menurunkan kenikmatan sama sekali. Selain itu, ada juga kondom yang dilengkapi dengan pelumas terutama dengan bahan dasar air, yang direkomendasikan bagi mereka yang mengalami masalah orgasme.


5. Menggunakan kondom menyakitkan

Hampir semua kondom memiliki silikon atau pelumas berbasis air, yang mencegah rasa sakit saat digunakan. Jika Anda mempunyai pengalaman nyeri saat berhubungan seks, maka Anda seharusnya berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan seksual, bukan menghubungkan rasa sakit dengan kondom.


6. Seks tanpa kondom lebih sehat karena ada pertukaran hormon

Memang benar, melakukan hubungan seks tanpa kondom dapat mengobati depresi pada wanita. Tapi efek negatif seperti kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi atau penyakit menular seksual bisa saja terjadi, dan ini bisa berakibat lebih tidak sehat.


7. Pasangan menikah bisa melakukan hubungan seks tanpa kondom

Infeksi virus tidak hanya bisa menular melalui hubungan seks yang bergonta-ganti pasangan, tetapi juga dalam transportasi umum, kolam renang, tempat gym, dan lainnya. Dalam jangka panjang, virus Herpes dapat tiba-tiba 'bangun', yang secara pasif dimiliki oleh hampir setiap organisme.


8. Ada dua ukuran kondom, kecil (Asia) dan besar (negara barat)

Kondom dapat dibagi menjadi tiga kelompok tergantung pada ukuran, yaitu 48-50 mm, 51-53 mm, 54-56 mm. Panjang kondom yang khas adalah 19-20 cm.


9. Canggung memberi tahu pasangan bila akan menggunakan kondom

Banyak orang berpikir bahwa jika mereka meminta pasangan mereka untuk menggunakan kondom, mereka akan tersinggung. Pada kenyataannya, usulan tersebut adalah perawatan ekstra pada kesehatan pasangannya. Selain itu, ajang pemakaian kondom, bisa dijadikan momen khusus yang akan meningkatkan keharmonisan hubungan.


10. Menggunakan kondom lebih baik dilengkapi dengan krim, pelumas atau gel

Hal itu tidak benar. Terlepas dari kenyataan bahwa gel dan krim tertentu dapat menyebabkan gatal-gatal, reaksi alergi atau terbakar, mereka juga mungkin memiliki efek yang dapat merusak lateks dan pelumas kondom.


11. Semua kondom memiliki lubang kecil, sehingga tetap dapat menularkan AIDS

Kondom yang memperoleh izin penjualan harus lulus uji hermiticity dan peradangan, yang membuktikan tidak adanya lubang pada kondom.


12. Kondom mengganggu spontanitas seks

Jika Anda dan pasangan setuju untuk menggunakan kondom sejak awal, maka itu tidak akan mengganggu spontanitas seks Anda.

Sumber : http://www.jelajahunik.us/2012/06/12-mitos-seputar-kondom_09.html#ixzz1xaBFuSjY

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...